Sejak Kapan Senang Membaca? – Sebuah Cerita

Selamat malam!

It’s been a long time coming but I’m back at the very least ūüėČ

Glad to see everyone again ^^

Dalam tulisan ini, aku akan berbagi cerita tentang “sejarah” antara diriku dan dunia baca-membaca. Ide untuk tulisan ini muncul setelah aku membaca salah satu tulisan penulis Eka Kurniawan dalam blognya tentang apakah bacaan kita sebagai seorang individu sudah berkembang sesuai dengan usia kita. Tulisan penulis yang debut¬†dengan novel Cantik Itu Luka¬†ini membuatku bertanya-tanya dan kembali mengingat lagi sejarah dan evolusi bacaanku dari masa kanak-kanak hingga ke masa belasan tahun saat ini.

Apakah aku sudah berkembang dalam hal bacaanku?

Sesungguhnya salah satu pekerjaan yang sulit untuk dilakukan adalah menilai diri kita sendiri. Rasanya menilai perkembangan diriku sendiri dalam dunia baca-membaca bukanlah hal yang sederhana. Akan tetapi, mungkin saja lewat tulisan yang runut tentang perkembangan bacaanku sedari kecil  hingga saat ini, sedikit banyaknya aku dapat mengamati bagaimana perkembangan bacaanku dari dulu hingga sekarang.

Kenapa menggunakan kalimat tanya “Sejak kapan senang membaca?” sebagai judul tulisan ini?

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sekali ataupun dua kali aku menerima pertanyaan “Sejak kapan senang membaca?”. Pertanyaan seperti ini pulalah yang mengingatkanku kembali pada awal ketertarikanku dalam dunia baca-membaca lewat buku anak-anak bergambar berwarna biru yang lusuh itu (setidaknya ini adalah ingatan paling awal yang rasanya dapat aku ingat perihal perkara baca-membaca). Setiap pertanyaan bernada seperti ini dilontarkan orang-orang, aku akan senantiasa teringat pada buku yang sama dan kenangan yang sama. Sebenarnya aku tidak terlalu yakin dengan jawaban macam apa yang diharapkan orang-orang dari pertanyaan ini. Apakah mereka mengharapkan jawaban pasti? Dengan tanggal dan tahun dan bulan atau hal detail semacam itu? Atau ini hanyalah pertanyaan basa basi? Mungkinkah mereka mengharapkan jawaban dengan konten cerita lucu atau inspiratif? Atau mungkinkah pertanyaan ini murni muncul dari rasa ingin tahu dan heran?

Terlepas dari berbagai latar belakang kenapa seseorang bertanya tentang sejak kapan aku menyenangi kegiatan membaca, sepertinya ketika memperoleh pertanyaan semacam ini lagi di masa yang akan datang aku akan (dengan seenaknya) menyodorkan tulisan ini kepada mereka yang bertanya ūüôā Tulisan ini lebih kurangnya akan dapat memuaskan rasa ingin tahumu tentang bagaimana aku, Farah, menyenangi kegiatan baca membaca.

Sejarah Singkat Tentang Evolusi Bacaanku

Setiap orang pasti memiliki tujuan dari setiap kegiatan yang dilakukannya bukan? Baik dalam bentuk tujuan jangka pendek yang biasanya selalu kita capai seperti mandi supaya menjadi bersih. Dan bentuk tujuan jangka panjang seperti meraih mimpi atau keinginan kita yang baru bisa tercapai setelah kita memenuhi tujuan-tujuan kita yang lebih kecil. Terkadang, kita justru melakukan kegiatan bukan karena ingin mencapai tujuan-tujuan terukur. Kita melakukan sesuatu hanya karena kita senang dalam melakukan. Terkadang, kita rutin melakukan sesuatu karena kita tidak bisa mengingat lagi bagaimana rasanya jikalau kita hidup tanpa melakukannya (oke, ini terdengar terlalu dramatis hahaha).

Kalimat terakhir dari paragraf di atas mungkin terdengar agak berlebihan tapi tunggu dulu… Percaya atau tidak itu adalah salah satu alasan kenapa aku tidak bisa terpaut jauh dari dunia baca-membaca saat ini. Dibesarkan sebagai anak sulung dan memiliki satu saudara, aku terbiasa menghabiskan waktu dengan diriku sendiri. Bisa dibilang di lingkungan sekitar tempat tinggalku tidak ada yang sebaya denganku. Aku menghabiskan masa sekolah dasarku dengan belajar (masa ini sepertinya adalah masa terajinku, sungguh aku belajar dengan sukarela), dan membaca komik di rumah. Waktu itu sekitar tahun 2004-2010, aku sama sekali buta akan internet. Aku juga tidak terlalu tertarik dengan TV. Akun¬†facebook¬†pertamaku adalah hasil buatan Ayahku dari masa itu (sekarang akun itu sudah terlantar selama lebih kurang 4 tahun). Aku mengumpulkan banyak komik¬†Doraemon. Meskipun juga memiliki komik¬†Naruto¬†dan¬†Conan, komik¬†Doraemon¬†tetap mendominasi rak bukuku. Orang tua yang memang mengetahui minatku ini sangat mendukung. Aku juga menjadi gemar membaca koran harian langganan Ayahku waktu itu. Aku juga mulai membaca beberapa karya klasik seperti Siti Nurbaya dan¬†Salah Asuhan. Yang lebih mengherankan lagi, aku juga ternyata telah mengenal karya Agatha Christie dari masa ini, jauh sebelum aku mengenal Sherlock Holmes di masa sekolah menengah. Karya Agatha Christie yang pertama kali aku baca waktu itu adalah Body in The Library.¬†Bisa dibilang dari masa inilah munculnya cikal bakal dari keterikatanku yang kuat¬†dengan berbagai yang hal yang bisa dibaca (dan ya, ini tidak hanya terbatas pada buku). Dan hari ini, malam ini,¬†setelah tahun-tahun yang berlalu,

aku sampai pada kesimpulan bahwa aku merasa telah menyenangi membaca sejak… hampir seluruh hidupku. Karena aku hampir tidak bisa mengingat waktu ketika aku tidak pernah melakukannya.

Masa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas (2010-2014) adalah masa ketika bacaanku mulai bervariasi dan tidak melulu komik dan koran semata. Aku mulai mengenal buku anak-anak penuh petualangan dan novel-novel remaja dengan cerita yang mudah diterka. Buku yang teramatku ingat dari masa ini adalah seri Lima Sekawan karya Enid Blyton. Aku sangat menyukai seri ini sampai-sampai lengkap mengkoleksi semua bukunya. Pada tahun 2012 ketika dengan ajaibnya sudah melek akan internet (dan teknologi), aku mulai gemar menjelejahi internet dan membaca berbagai tulisan di blog. Ketika pada tahun 2013 mulai berkenalan dengan dunia fandom lewat k-pop, aku mulai bersinggungan dengan dunia fan-fiction. Dan begitulah rutinitas membacaku bertualang ke berbagai medium. Di masa-masa ini aku sudah mengkoleksi buku-buku dari Tere Liye dan seri Supernova Dee Lestari, jatuh jati dengan novel Padang Bulan & Cinta Dalam Gelas karya Andrea Hirata, terkagum-kagum dengan novel Negeri Lima Menara dari Ahmad Fuadi, terharu dengan cerita persahabatan dalam novel 5cm Doni Dhirgantoro, terkekeh karena novel konyol Raditya Dika, gemas dan tersenyum sendiri karena buku The Diary of Wimpy Kid. Aku juga jadi teringat akan kenangan ketika aku membabat habis ketiga seri The Hunger Games sekaligus sampai larut malam karena terlampau penasaran dengan ceritanya. Masa ini memang merupakan yang penuh warna.

Tahun 2014-saat ini, merupakan masa ketika aku mulai serius mengkoleksi buku-buku. Impianku untuk memiliki perpustakaan pribadi seolah satu langkah lebih dekat. Aku juga menemukan genre favorit baru ketika jatuh hati pada tulisan travelogue (Ini terjadi semenjak aku berkenalan dengan buku The Naked Traveler-nya Trinity). Aku juga mulai membaca lebih banyak buku-buku klasik baik dari dalam negeri walaupun luar negeri. Aku mulai mengenal sederet nama penulis-penulis ternama. Haruki Murakami, Ernest Hemingway, Harper Lee, Anton Chekhov, Oscar Wilde, Natsume Soseki, Leo Tolstoy, George Orwell, Orhan Pamuk, dan masih banyak penulis luar biasa lainnya. Masih banyak karya sastra indah yang menunggu untuk aku baca di luar sana, maka dengan senang hati aku akan memulainya dari sekarang.

Bagaimana denganmu?

OW

Dokumentasi Pribadi

 

Bagaimana perkembanganmu dalam dunia baca-membaca?

“Sebab pembaca yang tumbuh, pembaca yang dewasa, merupakan pembaca yang memelihara roh anak-anak di dalam kepalanya. Roh rasa ingin tahu.”
Apakah Bacaan Kita Tumbuh? Eka Kurniawan.

Advertisements

One thought on “Sejak Kapan Senang Membaca? – Sebuah Cerita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s