[Movie Review] Parenting Goes Wrong in We Need To Talk About Kevin (2011)

1007931_nl_we_need_to_talk_about_kevin_1316513439082

Eva: You don’t look happy
Kevin: Have I ever?

INFORMASI FILM
Judul: We Need To Talk About Kevin
Sutradara: Lynne Ramsey
Penulis naskah: Lynne Ramsey, Rory Stewart Kinnear
Diadaptasi dari novel Lionel Shriver berjudul sama
Pemeran utama: Tilda Swinton, John C. Reilly, Ezra Miller
Penata musik: Jonny Greenwood
Sinematografer: Seamus McGarvey
Editor: Joe Bini
Tanggal rilis: 21 Mei 2011 (Cannes), 21 Oktober 2011 (UK)
Durasi: 112 menit
Genre: psychological thriller
Distributor: Oscilloscope Laboratories
Bahasa: Inggris
Negara: Amerika Serikat (AS) & Britania Raya (BR)
Rating: R (for disturbing violence and behavior, some sexuality and language)
Temukan tentang film ini di: IMDb / Rotten Tomatoes

TRAILER


SINOPSIS
Dalam We Need To Talk About Kevin (2011), kita akan dibawa untuk menyelami kisah seorang Eva Khatchadourian (Tilda Swinton), wanita (mantan) travel writer sukses yang hidupnya seolah mulai “berubah” ke arah yang tidak pernah ia duga ketika Eva melahirkan anak laki-laki pertamanya, Kevin (Ezra Miller). Eva dan Kevin telah mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan yang baik antara Ibu dan anak sedari Kevin masih sangat kecil. Hal ini pun terus berlanjut hingga bertahun-tahun kemudian dan pada akhirnya… Di usia 16 tahun Kevin melakukan suatu hal yang mengejutkan dan mengubah hidup Eva selama-lamanya.

REVIEW
Meskipun sudah cukup sering mendengar tentang We Need To Talk About Kevin sejak beberapa bulan yang lalu, aku baru memutuskan untuk benar-benar menonton film ini ketika Kak Ami dari Istanaminda merekomendasikan film ini dalam pertemuan pertama kami! Aku menyaksikan We Need To Talk About Kevin tanpa ekspektasi apa-apa dan hanya bisa menerka-nerka apa gerangan cerita yang akan terungkap dari film ini.

We Need To Talk About Kevin dituturkan lewat sudut pandang Eva (Tilda Swinton) dengan alur cerita campuran yang sebenarnya berpotensi untuk membingungkan. Aku membutuhkan waktu sejenak untuk terbiasa dengan teknik penceritaan seperti ini. Kita seolah dihadapkan pada potongan-potongan ingatan seorang Eva. Secara pribadi aku membagi potongan-potongan ingatan ini menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok ingatan ‘Pra-Kevin’ dan kelompok kedua adalah ingatan-ingatan Eva ‘Pasca-Kevin’. Dalam film ini kita dapat merasakan bahwa kehadiran Kevin (Ezra Miller) membuat kehidupan seorang Eva menjadi jungkir balik. Lewat beberapa scene aku bahkan juga mendapatkan kesan bahwa Eva seolah tidak menginginkan kehidupan yang seperti ini.

Terlepas dari usaha (setengah hati) Eva untuk menjadi seorang Ibu, tetap saja hubungannya dengan Kevin tidak pernah menjadi mulus. Kevin tumbuh penuh dengan tingkah polah yang sangat menyusahkan Eva. Kevin akan selalu menangis di pangkuan Eva tapi malah diam dalam pangkuan ayahnya, Franklin (John C. Reilly). Kevin akan senantiasa bersikap seperti seorang anak laki-laki bahagia yang patuh di depan Franklin. Akan tetapi, Kevin malah bersikap muram dan cenderung menyebalkan di depan Eva. Perlakuan semacam ini harus ditahan Eva selama bertahun-tahun. Bahkan setelah Eva melahirkan Celia, anak kedua dalam keluarga itu, sikap Kevin tidak kunjung berubah. Eva sendiri sebenarnya telah (berulang-kali) menceritakan masalah ini pada Franklin. Akan tetapi, Franklin tidak terlalu ambil pusing dengan tabiat Kevin dan malah menganggap ini adalah hal yang biasa dilakukan oleh anak lelaki seusianya. Tidak salah tentunya ketika Eva merasa frustasi karena semua ini.

Sinematografi dalam We Need To Talk About Kevin sendiri disusun dengan ciamik. Di sepanjang film kita dapat merasakan bagaimana merah menjadi warna yang dominan. Dalam setiap scene kita memang seolah mendapat kesan bahwa kita sedang menyelami ingatan dan kenangan yang menghantui Eva. Aku juga sangat menyukai pilihan musik yang digunakan dalam film ini.

Akting Tilda Swinton yang memerankan Eva juga patut diacungi jempol. Secara umum sebenarnya setiap aktor dan aktris memerankan karakternya dengan baik dalam We Need To Talk About Kevin. Aku benar-benar merasa frustasi selama menyaksikan film ini (dan ya… akting mereka memang semenyakinkan itu).

We Need To Talk About Kevin adalah tipe film yang masih menimbulkan banyak tanda tanya meskipun kita sudah selesai menyaksikannya. Pada satu titik, film ini bisa membuat kita ragu akan pendapat kita sendiri. Ketika muncul pertanyaan tentang siapakah yang patut disalahkan atas sifat Kevin, sesungguhnya aku juga masih tidak yakin akan jawabannya. Apakah Kevin memang sudah terlahir untuk menjadi seperti itu? Aku juga sungguh tidak berani menjamin. Kisah dalam film ini memang seolah seperti mimpi buruk yang bisa saja terjadi pada orang tua-orang tua yang sedang membesarkan anak-anaknya.

This is a really powerful film indeed

Aku sebenarnya menemukan cerita menarik terkait dengan ending dari film ini yang sepertinya sudah agak sedikit “diubah” dari script aslinya lewat situs review film Roger Ebert. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang akan ada di pikiranku (dan di pikiran ribuan orang lain) ketika film ini diakhiri seperti ini:

Swinton told me of a line in the script that wasn’t used, wisely, I believe. After you see the film, think about it. She asks Kevin why he didn’t kill her. His reply: “You don’t want to kill your audience.”

Aku sempat merinding ketika membaca ini untuk pertama kali hahaha.

Kalau kau menyukai film dengan genre psychological thriller yang powerful dan dipenuhi banyak tanda tanya seiring dengan berakhirnya cerita, sepertinya film ini memang film untukmu.

Advertisements

2 thoughts on “[Movie Review] Parenting Goes Wrong in We Need To Talk About Kevin (2011)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s