[Movie Review] In Bruges (2008)

In_Bruges_Poster

Marie: You guys are crazy

INFORMASI FILM
Judul: In Bruges
Sutradara: Martin McDonagh
Penulis naskah: Martin McDonagh
Pemeran utama: Colin Farrell, Brendan Gleeson, Ralph Fiennes
Penata musik: Carter Burwell
Sinematografer: Eigil Bryld
Editor: Jon Gregory
Tanggal rilis: 17 Januari 2008 (Sundance Film Festival), 08 Februari 2008 (AS), 18 April 2008 (BR)
Durasi: 107 menit
Genre: crime comedy, black comedy
Distributor: Universal Studios, Focus Features
Bahasa: Inggris
Negara: Amerika Serikat (AS), Britania Raya (BR)
Rating: R (for strong bloody violence, pervasive language and some drug use)
Temukan tentang film ini di: IMDb / Rotten Tomatoes

TRAILER

SINOPSIS
Setelah mengacau dalam tugas pertamanya sebagai pembunuh bayaran, Ray (Colin Farrell), dikirim oleh Sang bos, Harry Waters (Ralph Fiennes), menuju Bruges di Belgia untuk “berlibur”. Bersama dengan rekannya yang lebih senior, Ken (Brendan Gleeson), Ray dengan berat hati akhirnya menghabiskan waktunya di Bruges sembari menunggu perintah selanjutnya dari Harry.

REVIEW
Pertama dan utama sekali jangan tertipu dulu dengan trailer filmnya. This trailer totally do the film no justice. Trailer ini malah terbilang memberi impresi yang salah terkait film In Bruges. Dari trailer kita akan mendapat kesan bahwa film ini merupakan film konyol yang penuh dengan momen lucu dan sangat “komedi”. In Bruges sesungguhnya lebih daripada itu.

Pelabelan film ini sebagai film ber-genre black comedy memang bukan tanpa alasanDibalik trailer film yang terlihat begitu konyol, atmosfir sebenarnya dalam film berdurasi 107 menit ini bisa dikatakan gelap dan suram. Baik dari segi tone film, sinematografi, tema yang usung, dan musik penggiring dalam film, akan sulit memang untuk menemukan dimana sebenarnya letak nuansa “komedi” dalam film In Bruges.

Menurut kamus daring dari Cambridgeblack comedy dapat didefinisikan sebagai berikut:

A film, play, etc. that looks at the funny side of things that we usually consider to be very serious, like death and illness

Dalam hal ini, menurutku definisi kedua black comedy dari situs Urban Dictionary lebih mudah untuk dipahami kalau kita sangkut-pautkan dengan tema film ini:

Black Comedy
A form of comedy in which serious issues such as cannibalism, rape, genocide, terminal illnesses, etc. are treated humorously. Often more disturbing than funny.
Black Comedy is not a racial or urban issue. It is a genre of comedy.

Definisi di atas menggambarkan dengan tepat tema yang diusung dalam In Bruges.

Selain mengolok-olok film yang bertemakan tentang hitman atau assassin, In Bruges juga “menyinggung” isu-isu sensitif seperti rasisme dan keagamaan. Film ini bermain di daerah abu-abu antara salah dan benar dengan karakter-karakter yang dipertanyakan secara moral tapi tidak bisa kita pungkiri memiliki “prinsip baik” that’s still wrong on so many ways di balik diri mereka masing-masing.

In Bruges berhasil menggabungkan genre drama dan komedi bersama dengan undertone filosofis lewat dialog-dialog cerdas dan aktor yang memainkan peran masing-masing dengan luar biasa. Salah satu hal sulit ketika mengulas film penuh ironi yang notabenenya lumayan sulit (bagi sebagian orang) untuk dipahami adalah bagaimana kita dapat mengulas film tersebut dapat membocorkan terlalu banyak hal. In Bruges adalah tipe film yang bisa kita tonton berulang-kali agar kita dapat lebih memahami berbagai pesan dan simbolisme di balik filmnya. Kalian dapat menemukan analisis film In Bruges yang on point (spoiler alert) di situs ini. Aku juga menyukai (spoiler alert) artikel ini.

Salah satu hal yang aku sukai dari film ini adalah dinamika hubungan dari 2 tokoh utamanya, Ray dan Ken. Ken yang lebih senior adalah pria dengan pembawaan kalem dan bijak. Ray di sisi lain adalah kebalikan dari Ken, seorang pria yang gugup dan menggebu-gebu. Di awal film kedua orang ini terlihat tidak begitu menyukai satu sama lain. Seiring dengan berjalannya film, hubungan keduanya mulai berkembang dan pada akhirnya menurut bahasaku  menjadi hubungan yang kuat dan ironis. It’s fascinating.

“I know I’m awake, but I feel like I’m in a dream.”

Meskipun tidak muncul sebelum setengah durasi dari film sudah berjalan, Ralph Fiennes memerankan villain dengan menyakinkan dalam In Bruges. Sejak pertama kali  (benar-benar) mengenalnya lewat film The Grand Budapest Hotel dan pada akhirnya menyadari bahwa Beliau-lah aktor dibalik karakter Lord Voldemort, aku semakin penasaran untuk menyaksikannya dalam berbagai film lain. Fiennes memiliki suara dan aksen yang khas menurutku.

Lucu saja ketika menyadari bahwa 4 aktor yang berpartisipasi dalam film ini sebenarnya juga terlibat dalam film-film Harry Potter. Seperti yang kita tahu, Ralph Fiennes berperan sebagai villain ikonik dalam seri film ini, Lord Voldemort. Brendan Gleeson pernah berperan sebagai Sang auror legendaris, Alastor “Mad-Eyed” Moody. Clemence Poesy yang dalam In Bruges berperan sebagai Chloe terkenal lewat perannya sebagai Fleur Delacour. Dan baru-baru ini, Colin Farrel memerankan karakter Percival Graves dalam film spin off Harry Potter, Fantastic Beast and Where to Find Them. Harry Potter ternyata menyatukan kita semua!

Sedikit banyaknya scene penutup dalam In Bruges mengingatkanku pada scene penutup film Black Swan. Kedua film ini ditutup dengan scene yang indah dan menghentak. Aku benar-benar terpana ketika film berakhir dan credit akhir film mulai berjalan.

Kalau kau menyukai film dengan genre black comedy dan menikmati film yang penuh ironi, In Bruges adalah tontonan wajib untukmu. 


Sumber gambar: (1) (2)

Advertisements

1 thought on “[Movie Review] In Bruges (2008)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s