Mengetahui Fungsi Kognitif Diri Sendiri

Tentang Kata Kognitif dan Fungsi Kognitif Diri

Menurut KBBI daring, kata “kognitif” dapat didefinisikan sebagai berikut:

kog.ni.tif

  1. n berhubungan dengan atau melibatkan kognisi
  2. n berdasar kepada pengetahuan faktual yang empiris

Kata “kognisi” sendiri dapat diartikan sebagai:

kog.ni.si

  1. n kegiatan atau proses memperoleh pengetahuan (termasuk kesadaran, perasaan, dan sebagainya) atau usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri
  2. n Sos proses, pengenalan, dan penafsiran lingkungan oleh seseorang
  3. n Sos hasil pemerolehan pengetahuan

Dalam bahasa Inggris sendiri, menurut situs Merriam Webster, “cognitive” merupakan adjective (kata sifat) dan dapat diartikan begini:

1:  of, relating to, being, or involving conscious intellectual activity (as thinking, reasoning, or remembering) cognitive impairment

2:  based on or capable of being reduced to empirical factual knowledge

Rasa penasaranku untuk menentukan kecendrungan fungsi kognitif diri berdasarkan Jungian Cognitive Factors melalui situs > http://www.keys2cognition.com < muncul setelah  meet-up pertamaku dengan Kak Ami dari Istanaminda. Aku memang baru pertama kali mengenal tentang “tes” ini dari Kak Ami. Meskipun mengaku memiliki ketertarikan terhadap topik psikologi, pada kenyataannya aku belum terlalu sering membaca buku atau artikel terkait dengan topik bersangkutan. Jadi, tentu saja pengetahuanku masih bisa dibilang lumayan dangkal di bidang “psikologi” ini. Dalam postingan kali ini adalah aku ingin berbagi cerita terkait teori kecenderungan fungsi kognitif diri yang digagas oleh Carl Jung yang bahannya aku temukan dari beberapa sumber di internet.

Topik ini menarik perhatianku karena pada satu titik dalam hidup kita pasti pernah bertanya-tanya tentang hal-hal yang menyangkut diri kita sendiri. Bagaimana kita sebagai seorang pribadi sebenarnya? Bagaimana seseorang memandang kita sebagai individu? Muncul sebuah keinginan untuk secara tidak langsung “menilai” diri kita sendiri.

Pada tahun 1920-an Carl Jung mulai mengagas ide terkait dengan kecenderungan fungsi psikologis manusia. Jung menyadari bahwa setiap orang memiliki kecenderungan fungsi psikologis yang berbeda-beda. Gagasan Jung ini pada akhirnya lebih dikenal sebagai 4 fungsi mental esensial yang di era ini disebut dengan istilah proses kognitif.

4 fungsi tersebut adalah:

  • Sensing (S) & iNtuiting (N)

Kedua fungsi ini berkaitan dengan bagaimana kita menfokuskan perhatian kita dan mengumpulkan informasi. Apakah kita lebih memperhatikan informasi yang kita peroleh lewat indra? (Sensing) atau malah cenderung memperhatikan pola, kemungkinan, atau kesan yang muncul dari informasi yang kita terima tersebut? (Intuiting).

  • Thinking (T) & Feeling (F)

Fungsi ini terkait dengan kecenderungan kita dalam membuat keputusan. Apakah kita cenderung memutuskan sesuatu berdasarkan fakta yang tidak personal dan prinsip objektif? (Thinking) atau sebaliknya, kita lebih cenderung membuat keputusan dengan mempertimbangkan hal bersifat personal? (Feeling). Feeling dalam konteks ini tidak berarti “emosi/perasaan”. Kata Feeling lebih mengacu pada keputusan-keputusan yang dibuat berdasarkan nilai yang kita anut atau percayai.

Jung mendeskripsikan bahwa ke-4 proses di atas nantinya akan mempengaruhi bagaimana “Internal World(I) berupa pikiran, perasaan, ingatan, dan imajinasi serta “External World(E) berupa aksi, hubungan dengan orang lain atau organisasi seseorang akan berjalan. 4 istilah di atas kemudian dikombinasikan dengan 2 istilah ini dan dikenal sebagai 8 proses kognitif (Se/extraverted sensing, Si/introverted sensingNe/extraverted intuiting, Ni/introverted intuiting, Te/extraverted thinking, Ti/introverted thinking, Fe/extraverted feeling, Fi/introverted feeling).

Jung mengamati bahwa akses 8 proses kognitif bagi setiap orang adalah hal yang memungkinkan. Akan tetapi, setiap orang cenderung memiliki satu proses kognitif dominan yang sering dilakukannya dan satu proses kognitif lain sebagai pendukung.

Berdasarkan test yang aku ikuti di laman keys2cognition yang direkomendasikan Kak Ami, berikut adalah profil perkembangan kognitifku:

ISFP 2
My introvert-ness is showing

Tes ini menyimpulkan bahwa 2 proses kognitif yang cenderung aku gunakan adalah:

  1. Introverted Feeling (Fi) – Dominant Process

“Staying true to who you really are. Paying close attention to your personal identity, values and beliefs. Checking with your conscience. Choosing behavior congruent with what is important to you.”

    2.  Extraverted Sensing (Se) – Auxilliary Process

Immersing in the present context. Responding naturally to everything tangible you detect through your senses. Checking with what your gut instincts say. Testing limits and take risks for big rewards.”

Yang menarik dari hasil tes di situs ini adalah bagaimana kesimpulan tesnya juga menghubungkan beberapa kerangka pemikiran (framework) psikologi lain seperti uji MBTI dan The Four Temperaments untuk dicocokkan dengan hasil uji yang telah dilakukan.

Dilihat dari kecenderungan pola proses kognitif hasil pengujian ini, situs keys2cognition menyimpulkan bahwa pola responku cenderung mendekati individu dengan tipe ISFP (Inversion, Sensing, Feeling, Perceiving). Kalau deskripsi tipe ini dirasa kurang cocok, situs ini juga merekomendasikan tipe ESFP atau INFP untukku.

ISFP - INFP
Aku bisa dibilang adalah kombinasi aneh dari 2 tipe ini (sumber: here)

Dari 4 temperamen yang ada, profil kognitifku juga mengindikasikan bahwa aku cenderung merupakan seorang dengan temperamen: Improviser

Harus aku akui aku cukup terkejut dengan hasil yang lumayan relatable dari berbagai pengujian ini. Terlepas dari beragam kontroversi yang muncul lewat tes psikologi semacam ini, sedikit banyaknya tes-tes ini memang cukup eye-opening dan membuat kita lebih aware dengan diri sendiri.

Bagaimana keabsahan tesnya? Kenapa terkadang pada satu individu hasil tesnya malah berbeda? Well, menurutku ini kembali lagi pada individu itu sendiri. Aku rasa situasi dan emosi ketika melakukan tes akan mempengaruhi hasilnya nanti. Satu hal lain yang menurutku juga cukup tricky dari tes psikologi adalah terkait dengan sejauh mana kita jujur pada diri sendiri ketika menjawab berbagai pertanyaan dalam tes. Semakin jujur kita dengan diri sendiri dalam menjawab daftar pertanyaan dari tes semacam ini, aku pikir hasil tesnya tidak akan jauh dari kenyataan sebenarnya. Sepertinya 2 hal di atas dapat menjelaskan kenapa hal tes satu orang terkadang bisa berbeda-beda.

Pada akhirnya, tes psikologi semacam ini tidak bertujuan untuk menilai baik dan buruk ataupun sehat dan sakit. Tes-tes seperti ini tidak lain tujuannya adalah untuk menganalisis kecenderungan proses kognitif (berpikir) seseorang. Karena setiap manusia memiliki kecenderungan berpikir yang berbeda-beda karena dipengaruhi oleh lingkungan, pengalaman, serta hal lain yang telah dia alami sepanjang hidup.

Selain itu, bukankah cukup menyenangkan ketika kita dapat sedikit mengenal diri kita sendiri?


Sumber: (1) (2) (3) (4) (5) (6)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s